Gapyear dan lika-liku nya

 Hai, aku balik haha.

Akhirnya setelah bertahun-tahun tidak melirik blog yang dulu sempat menjadi 'rutinan' dilihat tiap minggu, aku mulai mau aktif lagi. Walau kayaknya juga gak ada pembaca.

Oh iya, aku masih saja gak jago-jago banget buat nulis di blog gini, tapi semoga pesannya tersampaikan.

Seperti judulnya 'gapyear' aku mau bahas topik tersebut, sesuai dengan pengalaman pribadi aku.

Halo, aku sari, alumni gapyear 2 tahun.

Mungkin pertanyaan utamanya adalah, kenapa aku gapyear? Jawabannya simple, aku gak diterima masuk PTN. Sebenernya dulu aku juga bukan yang nyoba semua jalur masuk universitas, aku cuma coba SBMTPN aja (di tahun 2018 pas aku lulus SMA). Kenapa kok cuma coba 1 jalur tapi uda mutusin gapyear? karena nilai rapot ku gak lolos untuk jalur SNMPTN (nilai rapot/jalur undangan dulu disebutnya), jadi satu-satunya yang bisa aku coba ya SBMPTN ini dengan harapan bisa masuk di prodi pilihan aku dan bisa dapet UKT yang gak berat.

Oh iya mundur dikit, waktu kelas 3 SMA aku berkesempatan daftar bidikmisi (yang saat ini disebut KIP-K). Seingetku dulu kalau bidikmisi bisa diajuinnya oleh sekolah (pokoknya gabisa tiba-tiba ngajuin sendiri cmiiw). Jadi saat itu yang paling 'masuk akal' buat aku adalah masuk PTN biar biayanya ringan.

Dan saat tahun 2018 itu ternyata masih belum rezeki, aku di tolak SBMPTN. Aku butuh 5 menit buat nge proses semua yang terjadi, notif hp uda mulai rame temen-temen yang saling berkabar hasil SBMPTN mereka, tapi otakku diem sesaat. Aku perlu waktu untuk menerima sekaligus memikirkan apa langkah selanjutnya. Saat itu yang tersisa hanya jalur "mandiri" yang tentu saja aku gak mampu buat bayar, walaupun nantinya bisa cari beasiswa, aku tidak berani mengambil kesempatan yang peluangnya belum pasti itu. Kenapa? karena ini hubungannya dengan keluargaku juga sebagai 'donatur' utama nantinya.

Akhirnya aku mutusin buat gapyear tahun itu, keluargaku juga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Lalu apa yang aku lakukan di tahun itu? Tentu saja tidak ada. Kenapa gak kerja dulu? Kayaknya dulu aku terlalu kalut sama 'ditolak' ptn itu, jadi aku mau gerak keluar rumah takut ketemu orang dan ditanya "keterima di universitas mana?". Awalnya pertanyaan itu dengan mudah aku jawab 'masih belum keterima', bayangin harus jawab pertanyaan itu minimal 1x sehari, sambil orang-orang tau aku dari keluarga mana, bukan hanya aku, tapi nama keluargaku juga ikut terbawa.

Tahun pertama aku gapyear dipenuhi dengan krisis, ngerasa bodoh dan gak berguna. Ada saat di mana aku bayangin balik ke SMA dan lebih fokus ke pelajaran. Sebuah TMI, aku cukup sibuj kegiatan di SMA (ekstrakurikuler), aku terlalu asik di organisasi. Sebenernya nilaiku enggak yang dibawah rata-rata, tapi sayangnya aku gagal mempertahankan nilaiku supaya masuk kriteria SNMPTN.

Selama gapyear tahun pertama juga aku sering bolak balik ke perpustakaan belajar mandiri buat SBMPTN ulang tahun 2019. Kenapa nggak ambil bimbel sar? Duitnya gaada brou. Jadi yang gratis ya belajar mandiri ke perpustakaan dengan modal buku kisi-kisi tahun tahun sebelumnya dan kalau bingung cari penjelasan di Yutub.

Akhirnya masuk ke masa-masa pendaftaran UTBK 2019 (pertama kali aku tes CBT, 2018 masih pake kertas). Dari yang dulu bisa 3 pilihan, sekarang cuma 2 pilihan. Sistem berubah, dulu kita milih dulu mau kemana baru tes, tahun 2019 tes dulu keluar nilai, baru milih mau ke prodi dan univ apa. Oh iya, pilihanku di tahun 2018 itu emang sangat berisiko, 3 pilihan itu, 2 diantaranya prodi pendidikan dokter :). Dan lagi di tahun 2019 aku lagi lagi ambil pilihan berisiko lagi, aku pilih prodi kedokteran lagi :). Pengumuman aku ditolak lagi, udah muak rasanya lihat website ltpmt warna merah itu. Stress lagi, down lagi, jawabin pertanyaan orang-orang lagi. Rasanya gaada perkembangan sama sekali di tahun 2018-2019 itu. Aku stuck di 'aku umur 18 tahun'.

Keluargaku mulai muak sih ngeliat aku seharian di rumah, sampai akhirnya tiap tingkah lakuku di rumah salah terus. Saat itu aku ngerasa 'kenapa gaada yang ngertiin aku?', 'kenapa aku salah terus?' Tapi kalau diingat-ingat ya, orang tua mana yang gak gelisah lihat anaknya 'gitu-gitu' aja.

Kenapa ga coba buat nyari kerja aja? Nah, itu dia, sebenernya sejak 2018 aku punya kesempatan buat langsung cari kerja, tapi aku saat itu terpaku dengan belajar biar bisa masuk ptn di 2019. Lalu ketika aku ditolak di 2019, rasanya aku juga ikut muak sama diriku sendiri, aku buang waktu 1 tahun for nothing beberapa bulan setelah ditolak itu, aku makin down, makin gamau keluar, sampai deactive instagram (gara-gara twibbon sliweran).

Lalu, ditengah-tengah ke 'gendeng' an ku itu, beruntunglah aku masih punya keluarga yang masih mau peduli sama aku (walau sering kena marah) dan sahabat-sahabatku SMA yang tetep ngasih semangat dan yakinin aku kalau dunia ku gak berhenti cuma gara-gara gak bisa kuliah. Di tahun 2019 rasanya semua plan A-Z ku hancur, aku sampe habis tenaga buat bisa bikin plan lagi. Di bulan september (kayaknya, aku aga lupa) sahabatku ngabarin ke aku kalau dia ada lowongan kerja di cafe as a barista. "kan kamu suka kopi sar, makannya aku ngabarin ke kamu" kata-kata dia saat itu spontan ngasih aku secercah semangat. Aku yang cuma luntrang luntrung saat itu, akhirnya bangun dan bikin lamaran pekerjaan pertama kali dengan 0 pengalaman. Singkat cerita aku interview (kalau diinget inget jawabanku saat itu cukup cupu, asbun dikit tapi setidaknya aku jujur) lalu beberapa saat aku dapet kabar kalau aku lolos dan diterima kerja.

Pekerjaan pertamaku jadi barista junior dengan modal suka kopi (tentu di training dulu ygy), dan megang gaji sendiri. Seketika semua bebanku rasanya terangkat, aku mulai melewati hari-hari dengan lebih ringan, belajar banyak banget selama kerja. Dan aku punya semangat buat bangun dan berangkat kerja (semangat soalnya bakal mencium bau espresso yang nagih itu). Aku akhirnya berani buka media sosial lagi, cukup aktif di instagram, share keseharian bikin kopi yang menyenangkan ituu.

Aku agak lupa, sepertinya saat itu aku sempet bilang ke beberapa temen kerja kalau aku memang ada rencana buat tes masuk universitas lagi, jadi saat mendekati awal tahun 2020, mulai banyak perbincangan mengenai aku yang mau tes masuk ptn lagi (in a good way) beberapa mas-mas dan mbak-mbak disitu ngasi aku saran, prodi apa yang bisa aku pertimbangkan, mengingat 2020 akan menjadi tahun terakhir aku bisa ikut tes masuk ptn lagi, ibaratnya ini last try, uda gaada kesempatan try again. kalau nantinya gak keterima ya aku harus merelakan tidak kuliah, atau kuliah 'mandiri' yang budgetnya masuk akal di aku.

Ingat kan ada kejadian luar biasa di tahun 2020? Iya pandemi. Salah satu dampak yang terasa adalah aku 'di rumah kan' padahal aku masih belum ada niat resign. Mungkin hikmahnya adalah aku bisa lebih fokus persiapan untuk tes utbk lagi. Saat itu aku sangat mempertimbangkan prodi apa yang bakal aku ambil, dan aku sudah merelakan prodi impianku, dan lebih 'tau diri' lah ya ibaratnya. Dampak lain dari pandemi ini, ketentuan UTBK saat itu juga berubah, seingatku hanya ada tes potensi skolastik saja (seingetku ya). Bayangin aku ngerasain 3 kali tes masuk perguruan tinggi dengan 3 situasi yang berbeda, 2018 dengan masih kertas, 2019 cbt pertama kali, 2020 ketentuan soal berbeda.

Kalau ditanya, muak ga? TENTU MUAK. Tapi tetap saja, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, kalau 2020 aku ditolak lagi, berarti aku memang tidak ditakdirkan untuk kuliah. Kalau di tahun-tahun sebelumnya aku berdo'a minta buat bisa diterima, tahun 2020 aku uda pasrah, apapun hasilnya aku minta diberi keikhlasan.

Tadi aku sudah cerita kan tentang sahabat-sahabatku SMA yang ngasih support aku? mereka ga cuma sekedar basa-basi, tapi selalu ngasih reminder aku buat belajar, mastiin aku buat daftar, tanya aku mau daftar dimana, nanyain kabar sekaligus ngasih semangat pas hari H aku utbk sampai nanyain kapan pengumuman penerimaannya. Dan itu semua mereka yang chat aku duluan, aku masih sangat-sangat bersyukur buat sahabat-sahabatku semua. Hari H pengumuman jam 3 sore, pagi nya mereka pada chat aku ngasih semangat, apapun hasilnya pasti yang terbaik. Setelah dhuhur sekitar jam setengah 2 aku ketiduran dan bangun jam setengah 4, waktu itu HP ku uda penuh notifikasi sahabat-sahabatku tanya bagaimana hasilnya.

Waktu bangun tidur aku masih khawatir dan ga berani buka website, akhirnya aku sholat ashar dulu baru buka website ltmpt. 'Selamat' akhirnya setelah 3 kali nyoba, Alhamdulillah aku bisa kuliah, di PTN, di prodi yang masih di rumpun yang sama dengan prodi impianku (keperawatan). Aku gak lupa ngabarin sahabat-sahabatku mereka heboh banyak yang ngucapin selamat, dan salah satu dari sahabatku jadi 'kakak tingkat' karena masih satu universitas dengan aku, bahkan dia juga membimbingku mengarahkan bagaimana cara daftar ulang, ngasih tips tips buat ospek kayanya selama 1 semester dia memastikan aku bisa hidup sebagai mahasiswa baru yang tidak kehilangan arah (CACING, yes, that's you) Sepertinya itu adalah kado paling istimewa (karena pengumumannya di bulan aku ulang tahun).

Dari 2 tahun aku gapyear, yang aku awalnya mikir aku stuck dan tidak berkembang, ternyata memang aku punya timeline yang berbeda. Ada banyak banget hikmah yang aku sadar (ini ada banyak dan aku rasain sampe lulus, nanti akan aku bikin part berbeda), kalau aku masuk di angkatan 2018/2019 mungkin berbeda ceritanya. Satu hal yang paling aku belajar, rezeki datang ke kita di saat yang tepat. Aku belajar buat sabar, buat berprasangka baik kepada Allah SWT, lebih menghargai banyak hal. Dan belajar legowo. Usaha tidak mengkhianati hasil (case aku emang datengnya aga molor, tapi gapapa aku sangat sangat bersyukur).

Kenapa sih kok ngotot banget kuliah? Kan sebenernya kita bisa sukses walau tidak kuliah? Dulu awalnya waktu kelas 10 alasannya mainstream, 'yang lain kuliah, aku juga mau' tapi setelah ditolak, tapi kelas 12 aku punya plan, dan kuliah adalah salah satu step yang harus dilalui. Jadi kalau step ini gak aku lewatin, plan itu akan berubah total. Sebenarnya aku punya banyak plan, tapi semua itu punya satu kesamaan: harus kuliah. Makannya aku sempet down karena semua plan ku terancam (mbti ku J hahahaha). Sampai akhirnya aku kerja sebentar itu, aku mulai nyusun plan cadangan yang tidak melibatkan kuliah, buat jaga-jaga semisal aku memang gak keterima. Ternyata terjadi pandemi, hal yang sama sekali gak masuk di prediksi ku, akhirnya waktu di rumahkan panik dikit karena back up plan ku juga terancam. Tapi saat itu aku coba mengikuti arus dulu sambil gelisah terus.

Mungkin, yang bisa aku saranin buat temen-temen yang ambis buat kuliah di prodi pilihannya, jangan takut gapyear ya. Ini berisiko memang kalau gak diterima, tapi kalau kalian setipe sama aku 'lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali' dan sudah siap akan semua konsekuensinya. Banyak banget hal postif, ilmu, dan 'benefit' yang didapet selama kuliah yang nanti kalau ada kesempatan aku bahas juga (dari pov ku).

Oiya kenapa pilih keperawatan? Dulu sempet ngelirik karena masih satu ranah dengan dokter, tapi aku banyak gak yakinnya karena masih berat buat relain prodi impian. Akhirnya aku sholat istikharah, dan suatu hari aku mimpi diterima di keperawatan, spesifik banget pokok mimpinya, aku ya saat itu mengira 'inikah petunjuk-Mu ya Rab?' akhirnya dipilih deh keperawatan itu, merinding sih waktu pengumuman itu (fun fact juga aku milih 2 prodi yang berbeda pas tahun 2020 itu, prodi yang sangat bertolak belakang, tapi gaada yang kedokteran yaah)

Nah, cukup sekian ceritanya, nanti aku lanjut cerita aku kuliah ya (karena banyak hal yang patut di sharing kan)

Buat pejuang PTN, semangat yaaa. Kalau rezekinya pasti dapet!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya

Sebuah cerita dari "si paling insecure"

Mental Health