Sebuah cerita dari "si paling insecure"

 Hai, aku kembali buat typing personal experience lagi.

Aku mau berbagi bagaimana lika-liku aku yang awalnya 'bodoh amat' menjadi super insecure dan berujung mencoba kembali 'bodoh amat upgrade ver.'

Kembali ke tahun 2012 waktu aku lulus SD dan masuk SMP, aku (merasa) punya kepribadian yang tidak memikirkan apa kata orang. Aku punya prinsip selama aku tidak melukai atau merugikan orang lain, aku tidak peduli bagaimana orang-orang melihat tingkah laku ku. Hal itu terbawa sampai aku lulus dan masuk SMA. Bahkan di kampung juga aku terkenal dengan sikap yang serupa, aku berpakaian senyamanku, bermain dengan laki-laki dan perempuan. Waktu itu bermain bersama lawan jenis bukan hal yang dianggap bagus apalagi untuk anak SMP-SMA. Tapi yaudah mereka teman-temanku, aku bisa bermain dengan siapapun. Aku cukup terkenal sebagai pribadi yang punya banyak teman, baik teman seangkatan, kakak tingkat sampai adik tingkat. Waktu SMP aku juga berkesempatan menjadi perwakilan kota ku untuk mengikuti kegiatan tingkat provinsi dan waktu SMA aku berkesempatan untuk menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti kegiatan tingkat kota. Aku pribadi yang cukup bebas dan tidak khawatir bagaimana orang menilaiku.

Tapi, kalau diingat-ingat lagi, ada 1 hal yang sebenarnya sudah menjadi 'bibit' insecure yang aku alami. Sebenernya terlihat remeh, namun semakin lama semakin parah: Aku tidak mau foto. Awalnya aku mengira aku lebih suka sebagai fotografer (lebih suka nge foto daripada difoto), ternyata itu hanya mekanisme pembenaran yang aku lakukan: aku tidak percaya diri dan merasa tidak cukup 'bagus' untuk di foto. Hal itu mulai kurasakan saat masuk SMA. Perpindahan ke usia remaja membuatku mulai secara tidak langsung membandingkan diriku dengan orang lain. Aku yang dulu berpakaian/berpenampilan sesuai yang aku mau (dan senyamanku) mulai membandingkan diriku dengan teman sebayaku. Oh iya untuk sebuah gambaran sejak kecil aku selalu dalam posisi berat badan berlebih, hal itu membuatku merasa semakin 'tidak bagus'. 

Waktu awal SMA aku masih bisa berpose di depan kamera, namun semakin lama, aku semakin bersembunyi, bahkan kalau ada foto bersama di event, aku mencari tempat paling tidak terlihat. Ada satu event tahunan di SMA ku yang aku selalu menjadi panitia di event tersebut. Sesibuk-sibuknya panitia, hampir semuanya pasti spontan berpose. Awalnya aku tidak menyadari sampai di tahun terakhir aku SMA, teman-teman sekelas ku bilang 'kita setiap mau foto bareng kelas, kamu pasti sibuk, padahal panitia yang lain masih bisa foto bareng' dan ada yang bilang juga '3 tahun kamu jadi panitia, foto buat di publish yang proper tuh gaada, pasti kalau ngga kamu lagi jalan, lagi koordinasi, atau lagi ngapain gitu, gaada tuh kamu senyum ke kamera' setelah itu aku mulai menyadari kalau aku semakin menghindar untuk di foto, atau lebih tepatnya aku khawatir fotonya akan jelek atau orang lain akan menganggap itu jelek. Setidaknya foto 'candid' masih bisa masuk akal kalau hasilnya jelek, tapi kalau aku sudah berpose di depan kamera tapi ternyata hasilnya jelek, itu memang karena akunya yang jelek. 

Pemikiran itu semakin parah, aku semakin tidak percaya diri. Bahkan aku merasa tidak ada satupun pakaian yang cocok untuk ku pakai, seragam sekolah menjadi salah satu pakaian 'aman' ku. Sebelumnya aku pernah share tentang pengalaman gapyear ku, masalah aku yang insecure ini semakin menjadi-jadi terutama setelah lulus SMA. Semenjak SMP aku sudah punya akun instagram, tapi setelah SMA, postingan yang memperlihatkan diriku, perlahan semakin habis karena aku hapus. Setidaknya sejak kelas 2 SMA aku tidak pernah mengunggah foto yang 'ada aku-nya' kebanyakan foto pemandangan atau foto bersama. Dan setelah lulus akun instagramku dipenuhi dengan foto pemandangan saja. Masalah foto ini tidak hanya berlaku saat di sekolah, di semua kegiatan, di semua acara yang ada kamera/dokumentasinya, aku selalu menghindar.  Bahkan fitur instagram stories yang cuma 24 jam itu saja, aku hanya mau repost saja, tidak sanggup mengunggah 'yang ada aku nya'

Tidak hanya masalah instagram, profile whatsapp pun tidak ada, profile line gambar meme kucing. Satu-satunya 'foto aman' ku adalah ketika wajahku tidak terlihat atau sedang memakai masker. Padahal dulu waktu awal hp android ramai digunakan dan banyak aplikasi foto, aku tipe yang 'narsis'. Dulu di facebook pun aku sering upload foto alay. Entah sejak kapan tepatnya aku mulai tidak percaya diri, sepertinya salah si 'puber' kali ya hahahaha.

Masuk masa kuliah luring setelah pandemi mulai membaik, aku lebih banyak bertemu orang dan teman-temanku. Mulai ikut kegiatan kampus hingga kegiatan kepanitiaan. Aku harus bersyukur karena bisa dibilang ini titik balikku. Aku punya segerombolan teman... circle lah ya sebutannya, hasil dari divisi suatu kepanitiaan yang pertemanannya berlanjut terus bahkan setelah event nya selesai, kita sering main bareng ke cafe dll. Karena kami dari prodi yang beda, jadi sekalinya kita main pasti ada "eh foto yuk foto yuk" untuk mengabadikan momen kami, dan tentu saja mereka memastikan semua yang hadir harus masuk frame. Karena aku juga gabisa kabur atau menghindar, jadi ya aku "yuk yuk" aja walau dalam hatiku selalu berdoa 'semoga fotonya bagus, semoga aku gak bikin fotonya jelek'. Circle ku ini banyak yang mereka emang aestetik lah ya bahasanya, ngga canggung di foto dan apalagi kalau spot fotonya bagus, mereka bakal gantian foto satu per satu. Aku masih inget waktu pertama kali kita main ke cafe bareng, dan saat itu mereka menawarkan untuk 'sar, tak fotoin ayo, bagus disini' dan tentu aku menolak, masih dengan ketakutan yang sama. Setelah selesai foto-foto kami kembali duduk, beberapa temanku melihat hasil fotonya dan mereka memberikan komentar 'ih fotonya bagus banget' aku merasa lega karena aku tidak membuat fotonya jelek, aku pun melihat hasil fotonya, walau disitu aku terlihat paling aneh, tapi setidaknya secara keseluruhan teman-temanku terlihat bagus di foto itu.

Masalah tampil di depan umum, aku tidak mempunyai masalah. Lebih tepatnya aku tidak masalah bertemu dengan orang atau bagaimana aku dilihat secara langsung, aku hanya khawatir dengan foto, karena itu bisa dilihat berkali-kali, bisa dilihat siapapun yang punya. Berbeda dengan tampil atau bertemu secara langsung, setelah berpisah, semua akan terlupakan. Kok kesannya kayak ke-PD-an banget ya kalau aku bakal jadi center of attention kalau di foto? Itulah kenapa semakin foto berbanyak aku semakin punya tempat untuk sembunyi. 

Masalah 'ayo foto' ini semakin sering ku alami sampai aku perlahan mulai tidak masalah dengan foto bersama, tapi masih punya kekhawatiran yang sama kalau menyangkut foto sendirian/memposting hasil foto 'yang ada akunya' cuma merasa 'aman' kalau repost stories instagram saja. Semua kebiasaan 'ayo foto' ini perlahan membuatku merasa aman, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk foto sendirian tapi aku masih tidak nyaman dan masih ada kekhawatiran untuk mengunggah foto apapun yang 'aku sendirian' yah setidaknya bisa jadi dokumentasi pribadi. Ada salah satu temanku yang pernah bilang "kalau kita percaya diri, itu pasti hasilnya bakal ikut bagus. Karena kita punya mindset yang bagus, jadi kita melihat apapun hasilnya juga bagus. Lagian foto ini juga bukan hal yang bisa dikalkulasi atau punya standar yang pakem"

Sebenarnya saat itu aku juga mau bisa seperti yang lain, yang bisa merasa aman untuk mengunggah foto apapun tanpa merasa foto itu akan dinilai jelek. Setelah beberapa saat aku sudah mulai terbiasa foto dalam kelompok kecil dan sudah tidak menghindar. Akhirnya di tahun 2023 aku berani mencoba mengunggah fotoku yang akunya kelihatan, tidak memakai masker dan tidak membelakangi kamera. Aku masih ingat saat itu aku menghabiskan 3 jam untuk memilih dan berfikir apakah ini hal yang benar? bagaimana kalau ternyata jelek? bagaimana kalau ini dijadikan perbincangan?

Akhirnya aku memutuskan untuk berani mengunggah foto itu (lagian saat itu akun ku juga private, fotonya tidak akan secara random muncul di akun orang lain) dan benar saja, responnya tidak buruk. Setelah itu aku mulai merasa aman dengan diriku sendiri. Mungkin sebelumnya, di masa aku mulai merasa tidak 'aman' dengan diriku sendiri, saat itu aku berada di beberapa lingkungan yang 'cantik/bagus' menjadi tolak ukur dalam banyak hal (beauty privilege lah ya bahasanya sekarang). Aku perlahan menjadi seseorang yang mulai bodoh amat lagi dengan kata orang lain, yang menurutku bagus, aku tidak akan memikirkan bagaimana orang lain melihat aku.

Sepertinya sepele ya? dan terdengar seperti aku butuh validasi?

Mirip, tapi lebih tepatnya aku perlu memastikan kalau aku tidak akan mengalami panggilan panggilan aneh. Ada masa dimana aku mendengar bagaimana mudahnya orang lain memberikan label yang tidak terdengar baik, bukan hal yang sekali atau dua kali, namun kejadian yang cukup sering terjadi. Kalau diingat lagi aku juga pernah mendapatkan label-label aneh yang tidak terlalu kupikirkan sampai akhirnya secara tidak langsung aku sendiri yang membandingkan diriku dengan orang lain. Secara tidak langsung aku sendiri yang membuatku merasa insecure, aku terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilaiku, padahal sebenarnya tidak ada yang salah dengan diriku, dan yang paling penting aku tidak merugikan atau berbuat buruk pada siapapun.

Menurutku pribadi, mengunggah foto di media sosial berarti mengetahui adanya banyak kemungkinan yang terjadi dari tindakan kita, termasuk: orang lain mungkin akan secara tidak langsung memberikan penilaian kepada kita, membicarakan kita, memberikan komentar negatif, dan lain sebagainya. Setelah banyak hal yang ku alami, sepertinya aku bukan hanya merasa khawatir akan fotoku yang akan terlihat jelek, tapi juga bagaimana komentar orang lain. Tapi pada akhirnya aku bisa belajar, kalau kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan orang pikirkan tentang kita, apa yang orang lain bicarakan, apa yang akan mereka ketik di kolom komentar, apakah ada kemungkinan mereka screenshot dan di-share untuk dibicarakan bersama circle mereka, hal-hal itu diluar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri, kalau memang dirasa tidak nyaman jangan dipaksakan. Toh, tidak ada yang mewajibkan kita untuk berfoto, untuk mengunggah foto, untuk terlihat bagus, atau terlihat aestetikk.

Aku pribadi juga mau mengunggah foto, kenapa? ya pingin aja sebenernya, selain itu mungkin sebagai pengingat kalau aku sudah tidak insecure lagi (setidaknya untuk sekarang), dan aku merasa aman dengan pikiran orang lain, penilaian orang lain tentang aku. Lagian aku juga bukan seleb, ga ada yang pay attention juga sama apa yang aku unggah, paling juga cuma lewat aja. Pada akhirnya aku kembali ke sari yang versi bodoh amat tapi yang lebih masuk akal.

Masalah foto dan unggah-mengunggah ini sepenuhnya pilihan kita, sebenarnya tidak perlu mengikuti standar orang lain, tidak perlu yang harus upload, gak perlu harus life update terus menerus. Setiap orang punya pemikiran sendiri yang pasti terbaik, selama itu tidak melanggar privasi, tidak merugikan orang lain, sepertinya tidak perlu takut bagaimana penilaian orang lain.

Mungkin aku termasuk orang yang masih beruntung karena masalah insecure ini hanya sebatas di foto saja. Yang perlu disadari bahwa setiap apa yang kita ucapkan (ketik juga, soalnya komen dan netizen sekarang agak..) bisa jadi berdampak pada orang lain. Mungkin kita menganggap itu bercanda, tapi namanya bercanda, seharusnya semuanya menganggap lucu kan? Bukan malah menyakiti perasaan atau menyerang salah satu pihak.

Hal lain yang mungkin bisa teman-teman sadari juga, manusia pasti pernah ngerasa insecure, normal saja selama itu tidak memberikan dampak yang buruk pada kehidupan kita. Tapi ketika rasa insecure kita memberikan dampak yang buruk pada kehidupan kita seperti membuat kita minder sampai tidak mau bertemu orang lain, menurunkan produktivitas kita atau yang paling parah sampai 'merusak' diri kita. Jangan ragu untuk mulai mencari tahu, apakah ini karena lingkungan yang kurang baik? kalau memang lingkungan yang kurang baik, jangan tetap berada di lingkungan itu. Tapi kalau ternyata kita tidak bisa menemukan masalahnya dimana, atau bagaimana cara mengatasinya, jangan ragu untuk mencari bantuan yang lebih profesional. Jangan sampai kehidupan kita yang seharusnya bisa indah, bisa memuaskan, bisa banyak hal yang dicapai harus 'rusak' karena rasa insecure. Kayaknya gampang ya? iya bener 'kayaknya' doang, tapi aslinya bagi beberapa orang, ini bukan hal sepele.

Sudah, itu kalimat terakhirnya. Terima kasih sudah membaca hehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya

Mental Health