Mental Health
Sebelum baca, duduk di posisi yang paling nyaman yuk.
Sebenarnya hanya kamu yang mengerti dirimu sendiri.
Sebenarnya kamu bisa memilih apa yang baik untukmu apa yang
tidak baik untukmu.
Sebenarnya kamu adalah seorang pemimpin di kerajaan
pikiranmu sendiri.
Sebenarnya kamu bisa memilih untuk diam atau berbicara.
Tapi.
Mungkin kamu perlu seseorang yang lain untuk menemanimu
untuk mengerti kamu.
Mungkin kamu perlu seseorang yang membantumu tahu apa yang
baik dan buruk untuk kamu.
Mungkin kamu perlu teman untuk memimpin sebuah kerajaan yang
dikuasai oleh pikiran yang terkadang tidak masuk akal.
Mungkin kamu juga perlu dia yang bersedia mendengarmu, dan bertanya kepadamu "Hai, apakabar?"
Mental health sebenarnya sudah
ada dari dahulu, bahkan di indonesia isu tentang kesehatan mental seharusnya
bukan menjadi hal yang baru, tapi entah kenapa masalah kesehatan mental ini
masih baru diangkat ke publik dan menjadi hal baru yang diperbincangkan banyak
orang. Kebanyakan orang-orang yang membicarakan isu kesehatan mental ini
berasal dari Gen Z.
Gen Z, siapa sebenarnya mereka? Istilah Generasi Z mengacu pada remaja dan pra-remaja yang lahir setelah 1995 dan secara resmi diluncurkan pada tahun 2014. Karakteristik yang menonjol dari generasi mereka adalah kecintaannya yang tampak jelas dan kenyamanan dengan teknologi baru.
Kesehatan mental telah menjadi isu hangat yang diperbincangkan dikalangan gen Z, tapi sebenarnya apa sih kesehatan mental itu?. Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental adalah keadaan kesejahteran di mana seseorang dapat menyadari kemampuanya sendiri, dapat mengatasi tekanan normal kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.
Kesehatan mental sangat penting karena kesehatan mental berperan penting dalam kemampuan manusia untuk berikir, berinteraksi satu sama lain, mencari nafkah dan untuk menikmati hidup. Karena itu penting bagi semua masyarakat, komunitas dan seluruh individu di dunia untuk memahami tentang kesehatan mental.
Bagi beberapa orang, kesehatan mental bukanlah sesuatu yang serius, bahkan di beberapa daerah di Indonesia, seperti di tempat saya contohnya, tidak banyak yang mengerti dan memahami tentang kesehatan mental. Beberapa orang masih mengganggap masalah kesehatan mental seperti depresi sebagai akibat dari kurang dekat dengan tuhan atau karena hal-hal lainya. Sebagai bagian dari Gen Z, kita bisa melakukan promosi tentang kesehatan mental serta memberi edukasi kepada masyarakat umum tentang pentingnya kesehatan mental.
Ada beberapa hal yang juga bisa kita lakukan untuk mempromosikan kesehatan mental seperti kampanye anti diskriminasi, kampanye anti bulying, serta melakukan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan mental. Selain itu kita bisa saling membantu sesama Gen Z untuk setidaknya saling mendengar, saling mengerti dan memahami.
Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak juga hal-hal eskternal yang dapat mempengaruhi kesehatan mental kita. Seperti penggunaan media sosial, dampak penggunaan media sosial terhadap depresi, gangguan kecemasan dan tekanan psikologis di kalangan remaja cenderung memiliki faktor pendukung lain. Meskipun belum valid secara ilmiah. Sebuah penelitian melihat adana korelasi antara keduanya.
Masa pandemi saat ini termasuk hal yang cukup menguji kekuatan dan kesehatan mental para Gen Z, dari awal tahun 2020 hingga saat saya menulis ini, pandemi masih berlangsung. Kegiatan yang biasanya dilakukan secara bersama-sama, sekarang harus dilakukan di rumah. Ada beberapa Gen Z yang harus kehilangan pekerjaanya di saat seperti ini, ada juga yang harus bekerja dari rumah dengan hal-hal tidak terduga yang mungkin terjadi. Wabah yang terjadi saat ini telah mempengaruhi semua orang di dunia secara mental, sosial, fisik, psikologis dan juga ekonomi.
Peningkatan dukungan untuk kesehatan, termasuk kesehatan mental sangat diperlukan saat ini. Saling komunikasi dan memberikan saran dari pakar yang terpercaya harus menjadi salah satu prioritas. Selain itu, solidaritas masyarakat dalam merespon pandemi ini dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan yang berlebih terhadap pandemi ini. Khususnya kesehatan mental orang-orang yang harus melakukan isolasi mandiri, membutuhkan lebih banyak perhatian dari semua orang karena tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan depresi dan gangguan kecemasan yang muncul saat menjalani masa isolasi atau masa karantina.
Selain itu dampak dari pandemi ini juga terjadi kepada pelajar yang harus melakukan kegiatan belajar mereka melalui daring. Tidak ada hal yang dapat menutup kemungkinan bahwa hal ini akan berpengaruh kepada kesehatan mental para pelajar yang melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah.
Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada memperbaiki, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental kita. Yang pertama adalah bicarakan tentang perasaan anda. Berbicara tentang perasaan yang sedang kita rasakan dapat membantu kita untuk tetap dalam suasana hati yang baik serta membantu kita ketika sedang berada dalam waktu dimana kita merasa ada yang salah.
Yang kedua adalah tetap aktif dengan berolahraga diimbangi dengan makan yang teratur. Olahraga dapat meningkatkan self-esteem dan dapat membantu kita dalam konsentrasi, kualitas tidur, serta membuat kita terlihat dan merasa lebih baik. Selain itu, olahraga dapat menjaga tubuh kita sehat.
Selanjutnya adalah menjaga diri kita agar tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman yang mendukung kita. Dukungan dan peran keluarga serta teman atau sahabat dapat membantu kita ketika kita sedang berurusan dengan tekanan-tekanan dari dunia luar. Meskipun dalam kondisi pandemi, kita masih bisa menjaga diri kita agar tetap terhubung dengan keluarga maupun sahabat kita, kita hidup di era digital maka jarak bukan lagi penghalang untuk bisa saling berkomunikasi. Kecuali kuota dan sinyal yang terkadang membuat kita gagal mendekatkan yang jauh.
Lalu ketika mulai merasa ada yang salah, ketika merasa mulai membutuhkan bantuan, mintalah bantuan. Kita semua terkadang merasakan lelah atau mungkin hingga kewalahan oleh perasaan kia sendiri ketika kita mulai merasa tidak ada hal yang berjalan sesuai rencana. Dan tidak ada salahnya untuk beristirahat. Ketika mulai lelah, beristirahatlah. Tidak selamanya kita harus berlari, ketika mulai lelah, berjalanlah, istirahatlah, agar kalian bisa mengumpulkan tenaga untuk perjalanan yang masih panjang
Dan satu hal yang terpenting adalah menerima diri kita sendiri apa adanya dan peduli kepada orang lain. Di masa pandemi yang seperti ini, sangat diperlukan untuk saling menyemangati satu sama lain agar kita bisa bersama-sama melewati pandemi ini. Dan ketika badai telah berlalu kita akan bersama-sama melihat cerahnya langit dan terangnya sinar matahari bersama mereka yang kita sayangi.
'No matter what you're doing, you are doing great and no matter who you are, you're loved"
-Jae Day6
Sumber
Homan, A., 2015. Who Is Generation Z?. [online] Innovative Education in VT. Available at: <https://tiie.w3.uvm.edu/blog/who-are-generation-z/#.X3rvJ2gzbIX> [Accessed 5 October 2020].
Keles, B., McCrae, N. and Grealish, A., 2020. A systematic review: the influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), pp.79-93.
Mental Health Foundation. 2020. How To Look After Your Mental Health. [online] Available at:<https://www.mentalhealth.org.uk/publications/how-to-mental-health> [Accessed 5 October 2020]
Pragholapati, A., 2020. MENTAL HEALTH IN PANDEMIC COVID-19. Available at SSRN, 3596311
Who.int.
2018. Mental Health: Strengthening Our Response. [online] Available
at: <https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response>
[Accessed 5 October 2020].
Komentar
Posting Komentar