Cinta Simpul Mati

Hey yo!
Assalamualaikum.

SALAM PRAMUKA!

Jadi kemarenan aku habis ikut Raimuna Cabang Kota Malang 2016. Ya, aku anak pramuka dan entri kali ini terinspirasi dari salah satu kejadian selama aku mengikuti kegiatan Raimuna Cabang Kota Malang 2016. Sebenernya ada banyak banget kejadian yang gak bakal bisa dilupain, tapi nggak bisa aku jadiin satu semuanya, jadi mungkin beberapa part aja yang bakalan jadi cerita pendek disini.

Dan cerpen kali ini bukan 100% kejadian asli dan nama-nama yang ada disini pun juga disamarkan, jadi jangan kebawa baper loh, jangan ngehayal hal yang enggak-enggak, karena cerpen ini di desain khusus agar tidak membuat orang baper, tapi kalo ada aja yang masih baper, ya jadi tingkat baper kalian sangat sensitif.

Yaudah deh daripada akunya kebanyakan ngoceh nggak jelas ya, langsung aja dehhhh


CINTA SIMPUL MATI

          Kisah ini berawal dari Raimuna Cabang Kota Malang 2016. Dari ajang 5 tahun sekali inilah kisahku dimulai. Jujur saja aku bukanlah 'Anak Pramuka', pada awalnya aku hanya diminta untuk melatih tari tradisional untuk anak-anak pramuka yang akan berangkat Raimuna Cabang kali ini, tapi karena ada kekurangan peserta dan juga karena waktu sudah mendekati hari-H, maka aku juga menjadi bagian dari sangga yang akan berpartisipasi dalam kegiatan Raimuna Cabang selama 5 hari tersebut.

        Walaupun aku bukan anak pramuka tapi aku cukup mengenal pramuka karena dari SMP aku mempunyai banyak teman yang merupakan anak pramuka, jadi pramuka bukanlah hal yang baru untukku. Dari 8 orang anggota sangga putri, hanya aku yang kelas 12 sisanya kelas 11, tapi bukan berarti hanya aku siswa kelas 12 disini, juga ada Anita sebagai CST (Contingent Support Team), Edo sebagai pinsa sangga putra dan juga Ahmad sebagai CST sangga putra.

          Hari pertama menginjakkan kaki di bumi perkemahan sepertinya aku mempunyai firasat baik hingga hari mengangkat kaki dari bumi perkemahan ini. Setelah kami menurunkan barang dan sudah mendapatkan SIMT dari kesekretariatan, kami langsung membangun tenda di lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Semuanya berjalan dengan baik hingga upacara pembukaan, tetesan air yang jatuh dari langit secara perlahan tapi pasti mulai mengguyur seluruh kawasan bumi perkemahan dan membuat tanah menjadi lebih subur dan lebih seperti sawah, kami baru meneduh setelah upacara pembukaan selesai.

          Setelah upacara pembukaan lalu kegiatan selanjutnya adalah welcome party, jarak waktu dari upacara pembukaan hingga ke welcome party cukup jauh, jadi kami memiliki waktu luang yang panjang dan kami berencana untuk membereskan beberapa kekacauan yang terjadi karena hujan. Pada awalnya semua berjalan seperti yang aku perkirakan, tapi semua itu berubah saat aku mendapat informasi dari CST sangga putri bahwa malam ini saat welcoome party sekolah ku harus tampil pada urutan ke 4.

          Penampilan pada pentas seni berdasarkan sekolah, bukan berdasarkan sangga jadi sangga putra dan putri akan bergabung menjadi satu, sebenarnya aku pribadi cukup siap untuk penampilan malam ini karena pada dasarnya aku memang suka menari dan aku mengikuti ekstrakurikuler tari tradisional disekolah, jadi menari dengan persiapan hanya sekitar 3 hari bukanlah hal yang menakutkan untukku, tapi bagi teman-temanku yang lain, hal ini cukup 'horor', untung saja dalam waktu 3 hari kami berlatih dengan serius jadi walau belum 100% kami cukup siap untuk segala situasi yang akan terjadi, dan ini merupakan awal dari kisah 'Cinta Simpul Mati' untuk pertamakalinya dalam hidupku.

          Saat-saat yang mendebarkan akhirnya datang juga, aku akan menjadi pemimpin a.k.a tokoh utama dalam tarian ini, dan yang akan menjadi tokoh utama pria dalam tarian ini adalah 'dia' yang merupakan CST sangga putra dari sekoahku dan juga sebagai teman se angkatanku, aku cukup kenal baik dengannya karena aku dan dia adalah teman satu kelas lintas minat. Akan ada satu bagian pada tarian ini yang aku akan berhadap hadapan langsung denganya, gerakan memutar ditengah tengah formasi dengan kedua telapak tangan kanan kami saling berhadapan dengan tangan lurus kedepan dan juga pandangan lurus kedepan, aku tidak bisa menghindari untuk menatap matanya. Untuk pertama kalinya aku menari berdua berhadapan dengan seorang laki-laki.

          Sebelumnya aku dan dia mulai dekat sebelum hari-H Raimuna, ditambah dengan bagian tarian ini membuatku semakin tidak biasa saja kepadanya, entah darimana perasaan itu datang dengan sangat tidak sopan karena dia datang dan masuk seenaknya, entah hanya perasaanku saja yang berlebihan atau memang benar dia menjadi sedikit lebih sopan kepadaku, lebih tepatnya perhatian, tapi aku berusaha untuk membuang jauh jauh perasaan seperti itu, aku khawatir perasaanku terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu.

          Malam itu semua berjalan lancar walau tidak sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Kami sudah brusaha menapilkan yang terbaik malam itu, dan aku cukup lega dengan semua itu. Dan peristiwa bagian tarian itu cukup mengganggu pikiran dan perasaan ku, dan juga dia mulai berubah sedikit banget demi sedikit banget, dia mulai menggunakan bahasa indonesia waktu kami saling mengirim SMS, maklumlah hp dia rusak jadi dia hanya bisa di akses melalui SMS dan Telefon saja.

           Tidak terasa, sampailah pada pertengahan kegiatan pada hari ke-3 perkemahan, setelah malam itu aku tidak bisa untuk biasa saja kepadanya, aku berusaha bertindak seperti biasannya namun tingkahnya membuatku hampir kehabisan tingkah setiap di dekatnya, hingga hari ke-3 perkemahan semua itu masih tetap ada, malah semakin erat bagai simpul mati.

           Pada awalnya aku berusaha untuk menghilangkan semua perasaan aneh ini, aku menyadari ada yang tidak beres dengan diriku, aku menyadari ini bisa dikatakan perasaan suka atupun perasaan sayang, tapi aku masih belum yakin apakah ini hanya sekedar perasaan kepada teman atau melebihi dari itu. Semoga ini bukan perasaan seorang putri kepada ayahandanya. Semoga perasaan ini hanya sekedar perasaan kepada teman atau sahabat saja dan tidak lebih.

          Semua berjalan baik seperti rencana ku untuk menghilangkan perasaan yang tidak sopan itu, tapi semua mulai tidak terkendali setelah kata "Lagunya enak ya". Hari itu kami memang sedang berbalas pesan singkat ketika jam istirahat kegiatan pada hari ke-3. Saat itu ada beberapa lagu yang diputar di bumi perkemahan, semua genre lagu dimainkan mulai pop, dangdut, EDM, dan juga Ska setiap harinya.

          Saat itu ada beberapa lagu yang diputar, diantaranya lagu 'Cinta Sebatas Patok Tenda' dan juga lagu beraliran Ska yang aku tidak mengetahui judul lagunya. Awalnya kami sedang membahas hal yang menyangkut perkemahan lalu setelah itu selesai dia membalas 'Lagunya enak yaa', aku kira yang dia maksud itu lagu yang bergenre Ska, ternyata lagu yang dia maksud adalah lagu yang berjudul 'Cinta Sebatas Patok Tenda'. Astaga, dia belum pernah seperti ini sebelumnya, rasanya ada kembang api yang menyala nyala didalam diriku, aku kehilangan konsentrasiku terhadap lingkungan sekitar, aku tidak teriak-teriak alay seperti Abg kasmaran, aku hanya senyum-senyum semoga wajahku tidak memerah dan tidak ada orang yang melihatku senyum-senyum sendiri.

          Kejadian itu semakin membuatku tidak bisa melepaskan perasaan yang tidak sopan itu, sepertinya aku mulai berteman dengan perasaan yang tidak sopan itu, sepertinya perasaan yang tidak sopan itu mulai bertingkah sopan, sepertinya aku mulai mengenali kepada siapa perasaan yang tidak sopan ini akan berlabuh dan sebagai apa tempat berlabuh itu, tapi aku masih saja belum yakin dengan itu semua, karena mempercayai sesuatu dengan cepat itu merupakan salah satu hal tersulit untukku, apalagi aku merasa hanya akulah pemeran utama dalam kisah ini. Aku mulai mengira perasaan tidak sopan itu akan bertepuk sendirian, bukan bertepuk sebelah tangan, karena tidak ada sebelah tangan dalam bertepuk. Bagai Joger tanpa Jelek, aku mulai mengira aku hanya akan memandang tembok.

          Tak terasa, sampailah kami pada hari ke-5 kegiatan yang berarti hari terakhir kegiatan, dia hanya menjadi seperti itu, tidak ada yang berubah sedikit lebih darinya, dia hanya menjadi seperti biasanya namun ada bumbu tambahan di dalam sikapnya, yaitu perhatian. Hanya saja aku merasa pandanganku kepadanya bukan lagi teman kepada teman, pandangan ini mulai seperti teman kepada teman spesialnya. Sikap baiknya dan ketegasan yang lembut membuatku semakin sulit untuk tidak ada apa-apa kepadanya.

          Akhirnya kami kembali pulang setelah upacara penutupan, tidak ada kemajuan yang sangat dari aku dan dia, tidak ada aliran air yang deras, hanya saja ada tetesan air yang terus menetes tanpa henti. Aku merasa dia semakin berbeda kepadaku, dia menggunakan bahsa yang sangat sopan saat berbalas pesan denganku, sedangkan jika dia sedang berbalas pesan dengan orang lain dia menggunakan bahasa yang biasa aja.

          Sesampainya di sekolah semua orang mulai membicarakanku, kukira hanya aku sendiri yang menjadi pemeran utama, ternyata ada mereka para stalker, mereka membuatku benar-benar kehabisan tingkah dan tingkah ku menjadi kacau, akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada beberapa rekan ku disaat dia tidak ada di sekitarku, aku akan sangat sangat malu sekali jika dia tahu mengenai perasaan yang tidak sopan itu.

        Aku bercerita banyak hal kepada rekan-rekanku, hingga mereka ikut 'baper' mendengar ceritaku, sama sepertiku yang terkena virus baper akut karenanya, saat aku selesai bercerita tiba-tiba mereka yang sedang aku ajak berbicara diam dan saling menahan tawa, aku merasa ada yang tidak beres, aku menoleh ke belakang. ASTAGA! dia berdiri di belakangku, aku tersentak dan berdiri menghadapnya, entah aku tak mengerti mengapa aku melakukan itu, mengapa aku malah berdiri menghadapnya, aku merasa salah mengambil tindakan, jika aku lari aku akan malu, jika aku menoleh lagi ke arah yang berlawanan, aku juga akan malu, aku merasa serba salah dan sangat amat malu sekali, mereka jahat, mereka hanya diam saja.

          Aku bertanya kepadanya, sejak kapan dia berdiri di sana, dengan wajah se santai mungkin dan aku berusaha menyembunyikan bahwa sebenarnya aku sangat malu, gerogi, salah tingkah, kaget, bingung yang menjadi satu. Dan dia hanya menatapku sejenak lalu membalasku dengan senyuman. Senyumnya bagai api dan aku adalah lilinya. LELEH DAH! LELEH!. Aku bingung harus bagaimana dan akupun membalas senyumanya.

Berawal dari ku tatap matamu
Dan kau jabatkan tanganmu
Tuk saling berkenalan
Getaran cinta kian terus membelenggu
Ku rasa ku tlah jatuh cinta
Di perkemahan ini
Tlah ku katakan
Besarnya rasa cintaku
Dan kau pun tersipu malu
Dan kau balas cintaku
Baret dan Kacu diam jadi saksi bisu
Ku rasa ku tlah jatuh cinta
Di bumi perkemahan

Biarkan cinta kita erat bagai simpul mati
Misteri bagai sandi rumput
Sekokoh bagai pioneering
Ku ingin engkau tau besarnya rasa cintaku
Menyala bagai api unggun
Abadi seperti cikal di dadaku

Tlah ku katakan
Besarnya rasa cintaku
Dan kau pun tersipu malu
Dan kau balas cintaku
Baret dan Kacu diam jadi saksi bisu
Ku rasa ku tlah jatuh cinta
Di bumi perkemahan



TAMAT

So..... makasi buat yang mau baca, jagan lupa tinggalkan komentar, kasih kritik saran juga ya. penting banget kritik dan saran dari kalian semua, maaf banget kalo ceritanya nggak se ekspetasi kalian, masih amatiran banget.
dan jangan baper ya, karena ini cerpen udah di setting biar nggak bikin pembacanya baper. semoga kalian nggak baper yaaa!!!!!

dan terimakasih juga buat temen-temen yang udah mendukung cerpen ini, spesialnya buat yang udah nge inspirasi aku buat cerpen ini.

Assalamualaikum.

SALAM PRAMUKA!!!

sariamalin.


kalo ada yg typo ingetin bor.

Komentar

  1. udah baguss lhooh punya bakat bikin cerpen..
    semoga sukses sarii... salam pramuka!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya

Sebuah cerita dari "si paling insecure"

Mental Health